RSS

Heihooooo Everyone!!!

Welcome to zieikarublog.blogspot.com.Blog ini hanya berisi coret coretan dan karya karya dari seorang bocah yang masih berusaha tuk meraih impiannya.
Anggap saja situs sendiri......silahkan masuk!!

Rabu, 03 November 2010

Rubah Arktik




Rubah arktik, atau disebut juga rubah putih, rubah kutub atau rubah salju, adalah kelompok kecil rubah yang hidup di wilayah lingkar utara Arktik dan bisa ditemui di daerah tundra.

Rubah ini tinggal di wilayah dengan suhu ekstrim. Mereka memiliki struktur tubuh untuk menahan dingin, bulu yang tebal, sistem penahan panas, dan sejumlah lemak tubuh. Rubah ini memiliki luas permukaan tubuh yang lebih sempit dibandingkan rubah lain, bisa dilihat dari bentuk tubuh yang cenderung membulat, kaki dan moncong yang pendek, dan telinga pendek yang tebal. Rubah arktik memiliki pendengaran yang tajam dan bisa mendengarkan suara buruan di balik salju. Warna bulunya juga berubah sepanjang tahun. Dalam musim dingin, bulunya berwarna putih untuk penyamaran, dan ketika bulan musim panas, berubah menjadi cokelat.


Rubah arktik cenderung aktif sekitar bulan September hingga Mei. Dengan masa hamil 53 hari, induk rubah melahirkan sekitar 5-8 bayi. Rubah jantan dan betina merawat bayinya bersama-sama. Rubah betina muda akan meninggalkan kelompok untuk membentuk kelompok baru, sementara rubah muda jantan tetap menyatu dengan kelompok induknya.


Rubah membentuk hubungan monogami ketika musim kawin. Bayi akan dilahirkan pada awal musim panas, lalu para orang tua merawat mereka dalam liang yang besar. Liang-liang itu bisa berupa sistem jaringan terowongan bawah tanah yang rumit (tanpa router ataupun switch tentunya), yang menjadi tempat tinggal beberapa generasi rubah. Rubah muda yang lahir tahun lalu akan membantu para orang tua untuk mengasuh saudaranya yang lebih muda. Bayi rubah memiliki bulu kecokelatan, dan warna itu memutih ketika mereka semakin dewasa.

Rubah arktik makan daging apa saja yang bisa ditemukan di kutub, termasuk bayi anjing laut, dan juga ikan di bawah lapisan es. Jika ada makanan yang tidak habis dimakan, mereka akan menguburnya.

Kalo ada yang masih penasaran lagi, spesies rubah yang ini punya 4 sub-spesies:
- Rubah Arktik Kepulauan Bering (Alopex lagopus beringensis)
- Rubah Arktik Iceland (Alopex lagopus fuliginosus)
- Rubah Arktik Kepulauan Pribilof (Alopex lagopus probilofensis)
- Rubah Arktik Greenland (Alopex lagopus foragorapus)
dari namanya terlihat perbedaan masing-masing sub-spesies ada pada wilayah tinggalnya.

Err… jadi, siapa yang mau ikut melompat?



Sumber:http://www.andyan.wordpress.com

Kamis, 28 Oktober 2010

The Script new album


Pada bulan September lalu The Script meluncurkan almbun kedua mereka "Science & Faith". dengan kesuksesan album perdana mereka, album kedua ini diharapkan oleh para kritikus untuk memberikan warna baru dalam karya musik mereka. Sementara di lain pihak The Script sendiri harus mampu mempertahankan basis penggemar yang telah mereka peroleh lewat kesuksesan album ‘The Script’. Jadi langkah album kedua ini, dalam kondisi mempertahankan kesuksesan, memang jauh lebih berat dibandingkan dengan meluncurkan album perdana. Setidaknya album kedua ini pasti akan selalu dibandingkan dengan album perdana mereka.

Photobucket

Memang langkah paling aman adalah mempertahankan warna musik mereka, pop rock alternatif. Itulah langkah yang diambil The Script dalam album ini. Nuansanya memang terasa senyawa, kalau tak ingin dikatakan sepintas mirip. Mereka masih tetap memberikan reffrein yang ‘mematikan’ yang sangat mereka sadari. Jika album pertama mereka terasa lebih gelap tentang perjalanan mereka dalam berkarir, maka dalam album kedua ini mereka terdengar lebih terang dalam keyakinan, harapan dan cinta, rasanya cukup memberikan kesegaran. Memang masih menyisakan sedikit rasa gelap karena mengangkat isu kondisi sosial dan krisis ekonomi di Irlandia, namun bisa dikatakan masih lebih ringan bobotnya. Rasanya untuk penikmat musik Indonesia yang lebih menyukai pop rock drama, album ini sudah pasti harus masuk dalam koleksi mereka.

Album “Science & Faith” yang berisi 10 tembang ini dibuka dengan sebuah komposisi manis tentang melindungi orang yang kita sayangi berjudul ‘You Won’t Feel a Thing’. Sebuah komposisi bertempo cepat diiringi raungan gitar, dentuman drum yang bertenaga, lagu ini cukup mengangkat mood. Sedikit mengingatkan pada gaya musik U2, namun lantunan vokal Danny O’Donoghue dengan liukan yang melengking memberikan nuansa yang berbeda. Sementara track kedua ‘For The First Time’ dibuka dengan intro bergaya akustik, mengisahkan tentang perjuangan untuk bertahan hidup kehilangan pekerjaan dalam resesi ekonomi dengan kekuatan cinta, ‘these times are hard…don’t give up on me baby’. Sementara lewat ‘Nothing’ yang lebih terasa akustik yang lembut justru kontradiksi dengan Danny yang menyuarakan kegeraman melewati perpisahan yang buruk. Intronya sedikit mengingatkan pada ‘The Man Who Can’t Be Moved’. Kemudian mereka membawa kita dalam keriangan ‘Science & Faith’ dengan lirik yang mendalam ‘you won’t find faith or hope down a telescope’. ‘If You Ever Come Back’ memberikan nuansa yang berbeda dengan imbuhan ala rap bersahut-sahutan pada bait maupun chorus. Menarik meski agak janggal, karena terkesan hiphop ala Irish tapi ehm agak dipaksakan dan malah terkesan cheesy.

Sementara ‘Long Gone and Moved On’ memberikan semangat, keteguhan dan kelanjutan hidup dalam menghadapi perpisahan dengan melodi dalam mid tempo. Kontradiksi dengan ‘Long Gone and Moved On’, maka ‘Dead Man Walking’ terasa lebih gelap dalam menghadapi perpisahan, sedikit mengingatkan pada ‘We Cry’. The Script membawa kita bersantai sejenak dengan merayakan cinta lewat tembang yang ceria ‘This = Love’ – dibaca this is love. Dilanjutkan dengan sebuah komposisi yang gelap, ‘Walk Away’, yang mengisahkan seorang gadis yang bertahan dengan kekasihnya meski kekasihnya meminta gadis itu meninggalkannya.

Sebagai penutup mereka memberikan ‘Exit Wounds’, sebuah komposisi yang berkisah tentang menanggulangi luka-luka di hati yang memang harus dihadapi untuk dapat melanjutkan hidup. Sebuah lagu yang memberikan semangat bagi mereka yang sedang menghadapi masalah berat dalam hidupnya.
Official Website The Script
(Timmy / CreativeDisc Contributors)

Track List:
No. Title Length
1. “You Won’t Feel a Thing” 4:33
2. “For the First Time” 4:12
3. “Nothing” 4:32
4. “Science & Faith” 4:20
5. “If You Ever Come Back” 4:02
6. “Long Gone and Moved On” 4:17
7. “Dead Man Walking” 3:54
8. “This = Love” 4:21
9. “Walk Away” 3:36
10. “Exit Wounds” 4:25


Sumber : http://creativedisc.com/reviews/album-of-the-day/album-of-the-day-the-script-science-faith/

Jumat, 23 April 2010

Di Masa Depan, Konsol Game Tak Lagi Dibutuhkan


TOKYO - Pengembang game ternama di dunia, Hideo Kojima memprediksi jika di masa depan, konsol game macam PSP, Nintendo, dan Wii tidak akan lagi dibutuhkan oleh para gamer.

"Masa depan dunia gaming ada di tangan jaringan internet, yang memungkinkan semua pemain untuk bebas bermain dan berinteraksi di mana saja dan kapan saja, tanpa harus bergantung pada perangkat game dan platform," ujar Kojima, seperti dikutip melalui Yahoo News, Kamis (8/4/2010).

Menurut pengembang game Metal Solid Gear, yang telah terjual lebih dari 27 juta kopi, ketergantungan terhadap konsol game dan platform akan mulai hilang dalam kurun beberapa tahun mendatang. Hal ini akan menciptakan iklim dan lingkungan bermain game yang berbeda, tidak hanya terbatas di dalam kamar, tapi juga di mana saja, ketika gamer sedang bepergian.



Tanpa konsol, nantinya para gamer akan tetap bisa bermain game dan berinteraksi, serta merta karena ketergantungan pada internet. Oleh karena itu, Kojima pun mengembangkan game berjudul 'Metal Gear Solid: Peace Walker'.

Meski dikembangkan di bawah bendera Konami dan diperuntukkan bagi gamer Sony PSP namun game ini merupakan salah satu langkah Kojima untuk menuju visi yang tadi ia terangkan, benar-benar mengandalkan internet.

Wow, Ponsel Bisa 'Bernafas'!!


CALIFORNIA - Para peneliti di Intel Labs Berkeley, California merancang sebuah prototipe ponsel yang dapat 'bernafas'. Ponsel tersebut dapat menyerap udara sekaligus mengeluarkan data-data tentang kondisi udara di sekitarnya untuk mengukur kualitas udara.

Purwarupa ponsel yang dikembangkan para peneliti ini, diharapkan dapat membantu setiap pengguna ponsel memonitor kualitas udara. Ini juga untuk melengkapi 4.000 monitor stasioner yang digunakan oleh US Environmental Protection Agency

"Ini adalah gagasan yang dinamakan "citizen science". Dengan membaca kondisi polusi udara tentunya akan berguna," kata Allison Woodruff, peneliti di Intel Labs seperti dilansir CNN, Jumat (23/4/2010).



Woodruff mengatakan, pertama, pengguna ponsel dapat membantu pemerintah untuk mengetahui lokasi-lokasi yang memiliki masalah kualitas udara yang mungkin terlewati oleh monitor pemerintah. Pasalnya, monitor pemantau kualitas udara milik pemerintah cenderung memiliki keterbatasan jarak.